Searching...
Selasa, 12 Februari 2013

Ngusaba Dodol desa Pering Sari Selat 2013





Ngusaba Dodol seperti ngusaba umumnya di Bali, merupakan suatu Prosesi bentuk syukur masyrakat Hindu Bali kepada Sang Pecipta (Sang Hyang Widhi). Sebelum upacara Ngusaba Dodol di adakan,ada serangkaian ritual persiapan yang di laksankana oleh masyrakat Adat desa ini. Salah satunya adalah Mesiat Sarang. Ngusaba / Usaba Dodol awalnya adalah Ritual Syukuran masyarakat Desa Selat yang dilakoni di perkebunan masing masing milik warga setempat. atau yang sebut dengan USABA DI MEL (di kebun).
Bentuk rasa syukur ini di tujukan kehadapan Dewi Sri Manifestasi tuhan sebagai Dewi  Penyubur tanaman. Yang pada masanya tanaman pangan di desa ini begitu subur,hingga masyrakat setempat melakukan puji syukur terhadap Sang Pencipta dengan melakoni persembahan bentuk olahan yang terbuat dari hasil Bumi atau hasil panen mereka. Yang pada umumnya di Desa Selat ini bentuk kreasi cipata masyrakatnya berupa BUNTILAN (olahan yang du bungkus daun kering),yang secara umum kita kenal dengan DODOL. Lambat laun dengan perkembangan Budaya dan Pilosofi masyarakat Hindu Bali Ngusaba ini di laksanakan atau di pusatkan di Pura Dalem desa Adat Selat. Sesuai dengan kreasi dan karya cipta masyrakat biasanya,di setiap Upacara di pura Dalem masyarakat membuat sarana ritual yang di dominasi berbentuk BUNTILAN atau DODOL maka Ngusaba Di desa Pering Sari Selat ini di kenal dengan Ngusaba Dodol. Dalam prosesi  puncak ngusaba ini bisanya di lakukan dalam tiga tahap. Penyemeng yaitu persembahyangan yang di lakukan saat pagi dengan membawa sesajen Rayunan (hasil bumi dan ternak) yang di persembahakan kepada Tuhan dan Para Leluhur. Tengai yaitu persembahyangan yang di lakukan pada siang hari. Nyanjain yaitu persembahyangan yang di lakukan pada sore hari hinga Penyineban (penutup serangkain upacara atau ritual). Di dalam Ngusaba Dodol ini ada tradisi unik yang di lakoni masyarakat desa ini yaitu NAUR SOT / NAURIN (pembayaran). Bagi masyarakat desa ini maupun masrakat Bali pada umumnya ada tradisi Mesatya (setia) terhadap Janji yang di ucapakan.yang  tentunya ini masih dalam kerangka untuk kebaikan Diri,Keluarga,Lingkungan maupun terhadap Tuhan Sang Pencipta. Suatu bentuk kompetisi unik di dalamnya untuk memacu kepercayaan diri manusia. Naur Sot,ketika salah seornag Warga desa memiliki keinginan (dalam arti kebaikan), dan bila keinginan ini tercapai mereka akan menghaturkan (bentuk syukur) TAKILAN (dodol) dengan Ketententuan Selae Catu (25),Seket Catu (50),Teleung Benang Catu (75),Satus Catu (100) hingga Satak Catu (200). Catu merupakan ukuran berat bahan yang di pergunakan untuk membuat Takilan (1 Catu = 1,5 kg). yang nantinya Takilan ini di arak oleh anggota keluarganya ke Pura Dalem untuk Naurin sesuai Janji yang telah mereka sebutkan sebelumnya. Naurin lebih menganut Konsep untuk manusia dan Manusia (Tri Hita Karana). Menjelang sore serangkain upacara masih berangsung,pada pukul 17.45 wita masyarakat silih berganti berdatangan dengan memikul Anyaman keranjang dengan ukuran yang berpariasi. Masyarakat menyebutnya dengan SOK (keranjang atau Besek). Unik memang beberapa serangkain Ritual Ngusaba ini,secara Konsep SOOKAN / SOK adalah Manusia dengan Alam. Namun sayang hanya sempat mengambil beberapa foto dari ritual ini, gerimispun semakin deras. Makna sookan ini belum sempat di catat. Mudah mudahan pada tahun berikutnya dapat di tambahkan lagi sebagai perjalanan dalam Hobby Photography ku.














































0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!